Ketika Kita Berharap Sesuatu*

Ketika Kita Berharap Sesuatu*

Faidza azamta fatawakkal alallah,

Harapan adalah signal dimana syaraf kita hidup dan berfungsi. Harapan adalah sebagian instrumen dari emosi kita yang menuntut adanya usaha. Harapan juga bisa mendatangkan energi utamanya pada saat jiwa tengah di rundung kesedihan atau terpuruk agar bisa bangkit kembali sehingga tidak larut dalam kedukaan.

Sebuah harapan akan terwujud bila ada campur tangan pemegang kebijakan. Tanpa hal itu harapan yang di perjuangkan bagaikan sebuah lebel tanpa stempel. Sebuah harapan itu milik siapa saja tak memandang ruang dan waktu.

Harapan tak akan terwujud manakala tak ada perjuangan bukan sekedar ihtiar, yakni gerakan nyata yang menunjukkan usaha untuk menunjang terwujudnya harapan tentu bergantung erat dengan taqdir.

Bagaimana ketika harapan kita tak terwujud setelah melampai perjuangan panjang ??

Disinilah Ada unsur irodah Tuhan
Bisa jadi Tuhan sedang mendidik kita untuk menjadi pejuang sejati yaitu pribadi unggul yang mengukur keberhasilannya bukan pada hasil materi semata
Tetapi akan mengukur pada proses panjang dalam memperjuangkan sesuatu yang di harapkan itu.

Ada 2 faktor yang perlu di fahami dalam menggapai suatu harapan yaitu proses dan hasil.

Bagi golongan meterialistis seseorang berhasil itu dinilai dari hasil capaiannya. Golongan ini melupakan adanya proses yang juga tak kalah penting untuk dinilai
Karena dalam perjuangan ada pengorbanan, ada kesabaran, dan ada ketekunan.

Proses ini lah yang sering di lupakan banyak orang
Sehingga kerap menghalalkan segala cara untuk meraih yang diharapkannya itu dengan tidak memperhatikan effek psikologis, spiritual maupun sosial nantinya.

Ada banyak jejak ketika seseorang sudah memulai action hakekatnya dia sudah melakukan
Satu langkah maju dari hanya sekedar berharap.

Mulailah melakukan sesuatu atas dasar ingin merasakan usaha dan perjuangan
Seberapa kita mampu, dan seberapa kita sanggup menjalaninya.

Bila nantinya membuahkn hasil itu namanya UNTUNG
Bila belum berhasil, maka Tuhan mungkin ingin kita menjadi manusia tangguh yang tak mudah putus asa,
Bekal menjadi pribadi yang berjiwa besar.

Bila sudah menjadi manusia yang berjiwa besar dia akan siap berhadapan dengan segala kemungkinan apapun. Ketika manusia sudah sampai titik menikmati proses ini lah kemudian hadir kesadaran akan eksistensi dirinya, kukuatannya bahwa ada kekuatan di luar sana yang Maha dahsyat Maha luar biasa Maha Digdaya, yaitu kekuasaan Tuhan Robbul Izzati
Bila sudah sampai pada kesadaran ini maka sedikit demi sedikit terkikis rasa sombong , angkuh serta
merasa paling benar paling istimewa sehingga yang tersisa hanyalah sifat tawadu dan Roja untuk memperoleh ridoNya.

Mengapa ada orang yang sterss hingga mengakhiri hidupnya dengan cara tak wajar hanya karena harapannya tak kunjung wujud… tak lain dan tak bukan
Karena dia kering dan dangkal pemahannya terhadap fungsi suatu proses atau usaha.

Maka nabi memberi signal bahwa hidup adalah ta’lim Belajar dan belajar yang masyhur dalam hadis nya yang berbunyi Utlubul Ilma Minal Mahdi ill Lahdi Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai liang lahat
Matan hadis ini sangatlah luas maknanya
Intinya hidup adalah pembelajaran, dalam hal ini belajar memulai menjalani proses dari sesuatu yang diharapkan.

Semoga tulisan ringan ini bisa menginspirasi sekaligus memotivasi bagi siapa saja yang membacanya.

Wallohu A’lam bissowab

*Oleh Siti Masitoh
Penulis adalah Anggota Pergunu Jakarta Timur.

Share this post